Jumat, 21 Mei 2010

GeIsHa CeMpaka - SaStra -

Aku hanya bisa bicara dalam bahasa gagu.

Aku menangis dalam kebutaan abnormal.

Wajahku nanar beringus lekat membiru batu.

Tanganku beringsut ingsut merangkai frasa.

Bukan untuk menulis wasiat.

Hanya sebuah memo pendek tak bermakna.

” Merindu sentuhanmu di cempaka ”

aku meletakkan pen ku dan kulipat memo dengan gaya prancis tak beraturan. Kulemparkan begitu saja kepada sepasang merpati yang sedang bercinta di senja maret. Tepat depan jeruji kamar sederhana yang kusewa disebuah hotel tak berbintang. Begitu sederhana,,,hanya diisi satu kasur lusuh jingga yang memudar. Dan satu kursi kayu yang berdiri sempoyongan.

” ah!! mengganggu saja...” ucap pejantan merpati membuyarkan lamunan singkatku.
Aku tidak menjawab ucapan pejantan. Hanya diam dalam tatapan datar tak menentu. Tak lama pejantan menggerutu. Dia mengepakkan sayapnya terbang membumbung tinggi menembus awan senja. Yang diterbagi wewangian bunga kamboja putih.

Tak lama seperginya pejantan. Kudengar ketukkan pintu. Aku membukanya dengan penuh pengharapan. kubuka sepertiga dan kulihat seorang lelaki dibaliknya. Lelaki bertubuh sedang, berkulit sawo matang, dan rambutnya lurus dengan potangan ala betran antolin, tersenyum manis mengembang. Aku tak membalas. Reflek ku tenggelamkan tubuhku disela – sela tubuhnya.Tingginya 20 cm lebih dariku. Dan berat badannya 7 kg lebih banyak dari berat badanku. Aku segera mengajaknya masuk.

Dia mengikkutiku dalam remang. Kemudian, semunya kembali berawal. Di balik jendela aku mendengar sepasang merpati hangat membicarakanku. Diiringi desiran angin, betina berbisik lantang ” Geisha...geisha...geisha....cempaka ” . Dan aku tak perduli......

Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]